ProboNews

Pidato Kebangsaan Prabowo: Menelisik Data Pembangunan Yang Urung Berhasil

Saat berpidato, Prabowo dibantu telepromter, layar presentasi, dan tidak lagi menggunakan mikrofon old style. Gaya pidato dengan layar presentasi semacam itu di dunia politik Indonesia dipopulerkan Jokowi saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.

Jakarta, PROBO.ID-Berkemeja putih, berbalut jas, berpeci hitam, berdasi merah. Intonasi bicaranya berat, rapat, dan kerap terdengar serak. Di belakangnya, sebuah layar besar menyala terang menampilkan sari ucapan. Itulah gaya Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 02 saat memberikan Pidato Kebangsaan di Jakarta Convention Center, Senin malam kemarin.

Gaya Prabowo malam itu bisa dibandingkan dari cara berkampanyenya empat tahun lalu. Pada Maret 2014, Prabowo tampil dalam kampanye pengumpulan massa di Stadion Gelora Bung Karno, satu bulan sebelum Pemilu legislatif.

Soal intonasi bicara, gaya Prabowo dalam Pidato Kebangsaan dan pidato dia sebelumnya tidak berbeda. Bicaranya berapi-api, tangannya tanpa henti mengayun, mengikuti tiap kalimat yang terlontar.

Di GBK, Prabowo mengenakan baju safari putih, berpeci hitam, sepatu boot cokelat tua, menyelipkan keris di pinggang. Yang paling ikonik: ia memasuki stadion dengan menunggang kuda. Saat berpidato, ia menggunakan mikrofon old style.

Tapi, di JCC kemarin, Prabowo mengenakan jas. Ia tampil di ruangan tertutup; bukan stadion terbuka. Tidak ada lagi adegan ikonik. Soal pakaian dan desain panggung, Prabowo-yang-dulu bukanlah Prabowo-yang-sekarang. Desain panggung serupa pernah dipakai untuk Prabowo saat mengumpulkan kader Gerindra, November 2018.

Saat berpidato, Prabowo dibantu telepromter, layar presentasi, dan tidak lagi menggunakan mikrofon old style.

Gaya pidato dengan layar presentasi semacam itu di dunia politik Indonesia dipopulerkan Jokowi saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.

Prabowo jelas mengubah gayanya. Termasuk cara dia menceritakan permasalahan di negeri ini. Prabowo menyitir kisah-kisah individu untuk menggambarkan hal itu.

Pertama, dia menyampaikan kisah bunuh diri Hardi, seorang buruh tani di Grobogan, Jawa Tengah.

“Saya mendapat laporan. Seorang buruh tani. Seorang bapak. Seorang kepala keluarga. Namanya Hardi di Desa Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya. Almarhum gantung diri, meninggalkan istri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar utang; karena beban ekonomi dirasa terlalu berat,” kata Prabowo.

Bukan cuma bunuh diri Hardi yang diceritakan Prabowo. Dia juga menyampaikan cerita gantung diri seorang guru di Pekalongan (Jawa Tengah) dan Desa Watu Sigar, Gunung Kidul (Yogyakarta).

“Saya juga baru datang dari Klaten. Di situ, petani-petani beras bersedih karena saat mereka panen yang lalu, banjir beras dari luar negeri. Saya juga baru-baru ini dari Jawa Timur. Di sana, banyak petani tebu yang bersedih karena saat mereka panen, banjir gula dari luar negeri,” tambahnya.

Sementara itu, sebagian besar daerah yang disebut Prabowo dalam Pidato Kebangsaan berada di Jawa Tengah (Grobogan, Pekalongan, Klaten). Dua lainnya di Jawa Timur dan Yogyakarta.

Jawa Tengah dikenal “kandang banteng”, wilayah basis massa PDIP. Pada Pilpres 2014, suara yang diperoleh Jokowi hampir dua kali lipat lebih besar ketimbang suara yang digaet Prabowo.

Lewat ceritanya itu, Prabowo menyampaikan secara tersirat bahwa korban dampak kebijakan (impor pangan dan gaji guru) era Jokowi justru ada di wilayah basis massanya: Jawa Tengah.

Apa yang tersirat itu kembali terdengar ketika Prabowo menyinggung buruknya ketersediaan air bersih di Indonesia. Daerah yang diambil Prabowo sebagai contoh adalah Sragen.

“Di Sragen”, Prabowo menghentikan kalimatnya sejenak, “Di Sragen, satu jam dari Kota Solo, rakyat kesulitan air. Mereka menyampaikan kepada saya, tim kita di situ: enggak usah kirim kaos, enggak usah kirim baliho, tolong kirim tangki-tanki air.”

Bukan Sragen yang menarik, tapi Solo atau Surakarta, kota kelahiran Jokowi. Kota ini dipimpin Jokowi selama dua periode. Solo menjadi portofolio keberhasilan Jokowi ketika ia mencalonkan diri sebagai kandidat di Pilgub DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014. (tirto.id)

 

 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close